“hei maukah kamu menjadi mataku?” Tanya gadis berambut ikal
pada gadis berambut lurus. “apa?” tanya gadis berambut lurus tak mengerti
sambil mengusap matanya. “aku akan menjadi tanganmu” jawab gadis berambut ikal.
“hah? Mengapa? Aku tidak mengerti yang kau katakan” gadis berambut ikal itu
bertanya kembali. “kau cantik” gadis berambut ikal itu berkata sambil
tersenyum, “jangan menangis, nanti cantikmu hilang” lanjutnya kembali sambil
mengusap air mata si gadis berambut lurus. “bagaimana aku bisa tidak menangis
melihat keadaan mu seperti ini?” Tanya gadis berambut lurus. “hei, aku tidak
suka ditangisi kawan, memangnya aku lemah ya harus ditangisi dan dikasihani?”
tanya gadis berambut ikal sambil tersenyum. Namun tidak ada jawaban dari si
gadis berambut lurus. “kamu tau kan aku seperti apa? Aku kuat kawan! Jangan
khawatirkan aku seperti kau mengasihani seorang pengemis” lanjut gadis berambut
ikal. Gadis berambut lurus tak dapat berkata apa apa, ia hanya tersenyum sambil
terus meneteskan air mata. “hei cantik, sudahlah jangan menangis lagi. Aku
lebih suka melihatmu tersenyum, kau terlihat cantik” kata gadis bermbut lurus,
“berjanjilah padaku, jangan lagi kau memperlihatkan kelemahanmu dengan menangis,
apalagi untuk hal sepele, kamu harus bisa dan terus jalani hidup ini sambil
tersenyum. Nanti aku tidak bisa lagi membantumu banyak hal, tapi jika kau
percaya, aku akan terus ada didekatmu” kata gadis berambut ikal. “iya aku
percaya, aku juga percaya bahwa kau akan sembuh, dan aku ingin kau berjanji kau
harus sekuat tenaga untuk sembuh” angguk gadis berambut lurus. “iya, aku
berjanji, tapi jangan berharap terlalu besar kepadaku, kau taukan takdir itu
sudah datang?” jawabnya sambil tersenyum. “hei kamu curang, kamu tadi yang
menyuruhku jangan menangis, tapi kamu tidak mau berjanji padaku?! Kau egois” bentak
gadis berambut lurus itu sambil keluar kamar rumah sakit itu. “kawan, aku hanya
tidak ingin kau berharap terlalu besar kepadaku, aku tidak mau kau menangis di
pusara kun anti” jawab gadis berambut ikal itu pelan. “tuhan, tolong jaga dia.
Takdirku sudah dekat, aku sudah tak sanggup menahan semua rasa sakit ini, aku
sudah lemah, jangan biarkan dia lemah juga” doa gadis itu pada tuhan diatas
kasur rumah sakit itu sambil memejamkan mata dan meneteskan air mata. Kemudian kamar
rumah sakit itu sunyi dan tenang kecuali deru hujan diluar jendela kamar itu.
Diluar kamar. Beberapa menit ketika gadis berambut lurus meniggalkan
kamar si gadis berambut ikal, dia berjalan dilorong rumah sakit, dia melihat
beberapa suster dan dokter panik sambil berlari menuju kearahnya. dia
ketakutan. Ah bukan, ternyata bukan menuju kearahnya. Dia merasa lega, namun
ada yang mengganjal dipikiranya. Dia merasa ada sesuatu yang salah, ah dia
ingat, dia berlari dengan panik ke kamar rumah sakit si gadis berambut ikal. Takut
takut dia membuka pintu kamar rumah sakit itu. Dan ternyata benar, tentang yang
mengganjal pikiranya, dan dia telah menemukanya. Tubuhnya lemas, dia jatuh
terduduk diruangan itu, matanya panas menahan air mata. Ketika dia sudah tidak
kuat menahanya, dia berlari ketaman rumah sakit sekuat tenaga karna takut
airmatanya terjatuh. Ditaman dia menumpahkan semuanya bersama hujan yang menemaninya. Dia duduk dibangku taman
“hei kawan, aku tidak menangis kau lihatkan” ucap gadis itu pelan sambil
memandang langit. Dia menerawang kebeberapa menit yang lalu ketika masih berada
bersama kawannya di dalam kamar rumah sakit itu “kau terlalu cepat, akukan
sudah bilang padamu tadi, kau harus sekuat tenaga berusaha untuk sembuh. Kau
jahat meninggalkan ku secepat ini. Kau bahkan belum menjelaskan kenapa aku
harus menjadi mata dan kamu menjadi tanganya?!” katanya sambil terisak.
10 tahun setelah kejadian itu. Di depan pusara si gadis
berambut ikal, si gadis berambut lurus berkata “aku sekarang mengerti apa
maksud mata dan tangan itu, aku mau menjadi matamu. kau tangan dan aku mata, ketika tangan terluka, mata
menangis. dan itu benar, itu selalu jadi kebiasaanku. Aku juga tidak tau
mengapa, padahal kau saja yang terluka tak pernah menangis. Lalu ketika mata
mengangis tangan menghapusnya. Ya itu dia, kau yang selalu menghapus air mataku
kawan” jelasnya sambil tersenyum. “setelah aku melewati hidup ini tanpamu dan
tanpa tangisan selama 10 tahun ini, izinkanlah aku meneteskan air mata sekali
ini saja, kawan” ucap gadis berambut lurus sambil meneteskan air matanya.
Hanaan Fauziyyah Hilmi
13 November 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar